Kamis, 09 Januari 2014

Profil Pembina Warga gereja yang Baik Dalam Perjanjian Lama

Dalam membina warga gereja yang memiliki satu sasaran yang baik dalam pertumbuhan iman jemaat, perlu adanya sikap dan teladan hidup yang baik dari segi iman, karakter. Baik tidaknya rohani setiap warga jemaat ataupun umat Tuhan juga ditentukan oleh faktor kepemimpinan dan pribadi dari pembina jemaat tersebut. Pembimbing warga gereja yang berperan adalah Gembala sidang, penatua, diaken penilik jemaat. Yang diharapkan dari pembinaan warga jemaat adalah rohani yang bertumbuh dewasa dalam iman ke arah Kristus serta merealisasikan firman Allah dalam kehidupan sehari-hari.
            Di dalam Alkitab Perjanjian Lama banyak tokoh-tokoh yang berperan penting dan  dalam membina umat Tuhan. Dalam hal ini kita akan melihat kehidupan dua pribadi yang sangat menonjol dalam kitab perjanjian baru. Apa yang dapat kita teladani dari kehidupan mereka sebagai pembimbing umat Tuhan masa kini.
            Yang pertama adalah Yusuf, semasa mudanya ia sudah berbakti kepada ayahnya dengan mengembalakan kambing domba. Ayahnya sangat mengasihi dia diantara saudara-saudaranya yang lain (Kej.37:2-3). Ketika Yusuf di buang kedalam sumur dan di jual oleh saudara-saudaranya ia tidak melawan mereka. Yusuf ketika di Mesir, memiliki gaya hidup yang ditunjukan dengan ketaatanya kepada Allah, Potifar seorang kepala pengawal kerajaan mempercayakan seluruh isi rumahnya di bawah kuasa Yusuf. Karena adanya perkenanan Tuhan Allah terhadap Yusuf, Allah menbuat ia berhasil atas segala yang dilakukan oleh Yusuf. (Kej.39:2-3). Yusuf memiliki sikap yang manis dan takut akan Tuhan, itulah yang membuat perkenanan Tuhan Allah nyata dalam kehidupannya sebagai seorang budak. Yusuf adalah pribadi yang takut akan Tuhan, beberapa kali istri Potifar menggoda dia untuk melakukan perzinahan namun ia menolak karena ia mengerti akan apa arti hidupnya dihadapan Allah (Kej.39:7-12). Yusuf tidak mau melakukan hal itu karena ia juga tahu bahwa itu adalah dosa yang besar dan kekejian bagi Allah.
            Ketika ia berada dalam penjara, karena fitnhan istri Potifar ia di penjarakan, selama di penjarakan ia menunjukan sikapnya yang baik hingga kepala penjara begitu mempercayakan kepada Yusuf untuk mengatur isi penjara. Allah menyertainya karena ia mengucap syukur akan apa yang ia alami dalam hidupnya. Yusuf mengunakan kekuasaan dengan begitu bijaksana ketika kelaparan hebat terjadi di negeri Mesir dan sekitarnya, ia membuka lumbung dan gandum yang ada di Mesir untuk di jual (Kej. 41:53-57). Yusuf bukan lah pribadi yang Pendendam, ketika saudaranya mengalami kelaparan datang ke Mesir, Yusuf justru memberkati mereka dan tidak membalas apa yang di perbuat saudaranya itu (Kej.43:29). Justru ia memberkati mereka. (Kej. 50:15-21). Ini lah yang dapat kita lihat dari pribadi Yusuf sebagai pemimpin umat yang begitu luar biasa Allah memakai dia.
            Pribadi yang kedua adalah Musa, ia merupakan anak angkat dari Firaun yang ditemukan disungai oleh putri Firaun. Kepribadian Musa terbentuk menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Kita perlakuan buruk yang dilihat Musa terhadap bangsanya, ia melakukan pembelaan terhadap bangsanya atas apa yang dilakukan oleh ayah angkatnya Firaun.
            Sikap yang ditunjukan oleh Musa memperlihatkan bahwa ia tidak kompromi dengan kejahatan dan dosa yang Firaun lakukan (Kel. 2:11-12). Saat Musa di utus Tuhan Allah untuk memimpin bangsa Israel membawa mereka ke luar dari negeri Mesir, ia menyadari akan apa yang menjadi kekurangannya dihadapan Tuhan, namun Allah meyakinkan ia bahwa Allah menyertai dia ( 4:1-17). Ketika ia dan bangsa Israel dalam keadaan terhimpit yang ia lakukan bukan menyerah dan ia percaya Allah memberikan keselamatan serta bertindak akan apa yang Allah firmankan kepadanya (14:13,15,16,21,22). Musa memiliki iman yang disertai dengan meresponi apa yang Tuhan Allah katakan kepadanya.
            Musa, adalah pribadi yang memiliki ketaatan yang sunguh dihadapan Allah. Apa yang Allah katakan ia selalu melakukannya. Ini lah sebabnya hubungan Allah dengan Musa begitu dekat. Apa yang Allah firmankan tentang hukum-hukum dan aturan-aturan-Nya kepada Musa dan ia sampaikan dengan baik kepada umat Israel yang ia pimpin (Ps. 20-32). Sebagai seorang pemimpin umat, Musa berserah dan meminta Allah menyertai perjalanan di gurun. Sikap hidup Musa ini merupakan sikapnya yang selalu mengandalkan Tuhan dalam kehidupanya. (ps. 33)
            Namun ada yang membuat Musa dan generasi umat yang di pimpinnya tidak dapat masuk ke tanah perjanjian, justru  Yosua dan generasi muda umat Israel lah yang memasuki dan mendudukinya. Ini disebabkan oleh ketidak taatan, sikap yang bersunggut yang di lakukan oleh umat Israel yang sering melangggar apa yang menjadi ketetapan, memberontak kepada Allah dan hukum Allah, selama masa pengembaraan. (Bil. 11:4-6; 14:1-4; 15:32-36). Dan Musa secara pribadi adalah ia tidak dapat mengontrol amarahnya ketika umat Israel bersungut-sunggut dan ia melontarkan marahnya kepada Allah ( Kel.17:1-7).
            Dari kedua tokoh Alkitab ini, yang harus dimiliki oleh seorang pembina warga Jemaat masa kini agar setiap pelayananya berhasil memiliki hal-hal yang baik yang dari kedua tokoh diatas, yaitu, memiliki kekudusan disertai takut akan Tuhan, hidup yang berserah dan berpengharapan kepada Allah, tidak memiliki sifat sombong namun penuh kerendahhan hati, sikap yang mampu dan rela untuk mengampuni. Hal ini sanggat berpengaruh terhadap keberhasilan seorang pembina warga jemaat dalam membina mereka. Selain dari itu kebijaksanaan seperti yang dimiliki Yusuf serta sikap hidup yang mau menjadi berkat itu lah yang hasrus menjadi gaya hidup, tidak pemarah namun peramah.

            Kunci keberhasilan seorang pembina Jemaat dalam membina warga gerejanya tergantung pada pola dan sikap hidup yang baik di hadapan Allah, Keluarga dan Sesama. Bila hal ini dapat di penuhi dengan baik, maka setiap jemaat atau warga gereja yang dibina terarah dan bertumbuh dasn berakar di dalam Kristus Yesus.

Tuhan Yesus Memberkati Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar