Dalam membina warga gereja yang memiliki satu sasaran
yang baik dalam pertumbuhan iman jemaat, perlu adanya sikap dan teladan hidup
yang baik dari segi iman, karakter. Baik tidaknya rohani setiap warga jemaat
ataupun umat Tuhan juga ditentukan oleh faktor kepemimpinan dan pribadi dari
pembina jemaat tersebut. Pembimbing warga gereja yang berperan adalah Gembala
sidang, penatua, diaken penilik jemaat. Yang diharapkan dari pembinaan warga
jemaat adalah rohani yang bertumbuh dewasa dalam iman ke arah Kristus serta
merealisasikan firman Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Di
dalam Alkitab Perjanjian Lama banyak tokoh-tokoh yang berperan penting dan dalam membina umat Tuhan. Dalam hal ini kita
akan melihat kehidupan dua pribadi yang sangat menonjol dalam kitab perjanjian
baru. Apa yang dapat kita teladani dari kehidupan mereka sebagai pembimbing
umat Tuhan masa kini.
Yang
pertama adalah Yusuf, semasa mudanya ia sudah berbakti kepada ayahnya dengan mengembalakan
kambing domba. Ayahnya sangat mengasihi dia diantara saudara-saudaranya yang
lain (Kej.37:2-3). Ketika Yusuf di buang kedalam sumur dan di jual oleh
saudara-saudaranya ia tidak melawan mereka. Yusuf ketika di Mesir, memiliki
gaya hidup yang ditunjukan dengan ketaatanya kepada Allah, Potifar seorang
kepala pengawal kerajaan mempercayakan seluruh isi rumahnya di bawah kuasa
Yusuf. Karena adanya perkenanan Tuhan Allah terhadap Yusuf, Allah menbuat ia
berhasil atas segala yang dilakukan oleh Yusuf. (Kej.39:2-3). Yusuf memiliki
sikap yang manis dan takut akan Tuhan, itulah yang membuat perkenanan Tuhan
Allah nyata dalam kehidupannya sebagai seorang budak. Yusuf adalah pribadi yang
takut akan Tuhan, beberapa kali istri Potifar menggoda dia untuk melakukan
perzinahan namun ia menolak karena ia mengerti akan apa arti hidupnya dihadapan
Allah (Kej.39:7-12). Yusuf tidak mau melakukan hal itu karena ia juga tahu
bahwa itu adalah dosa yang besar dan kekejian bagi Allah.
Ketika ia berada dalam penjara, karena fitnhan istri
Potifar ia di penjarakan, selama di penjarakan ia menunjukan sikapnya yang baik
hingga kepala penjara begitu mempercayakan kepada Yusuf untuk mengatur isi
penjara. Allah menyertainya karena ia mengucap syukur akan apa yang ia alami
dalam hidupnya. Yusuf mengunakan kekuasaan dengan begitu bijaksana ketika kelaparan
hebat terjadi di negeri Mesir dan sekitarnya, ia membuka lumbung dan gandum
yang ada di Mesir untuk di jual (Kej. 41:53-57). Yusuf bukan lah pribadi yang
Pendendam, ketika saudaranya mengalami kelaparan datang ke Mesir, Yusuf justru
memberkati mereka dan tidak membalas apa yang di perbuat saudaranya itu (Kej.43:29).
Justru ia memberkati mereka. (Kej. 50:15-21). Ini lah yang dapat kita lihat
dari pribadi Yusuf sebagai pemimpin umat yang begitu luar biasa Allah memakai
dia.
Pribadi yang kedua adalah Musa, ia merupakan anak angkat
dari Firaun yang ditemukan disungai oleh putri Firaun. Kepribadian Musa
terbentuk menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Kita perlakuan buruk yang
dilihat Musa terhadap bangsanya, ia melakukan pembelaan terhadap bangsanya atas
apa yang dilakukan oleh ayah angkatnya Firaun.
Sikap
yang ditunjukan oleh Musa memperlihatkan bahwa ia tidak kompromi dengan kejahatan
dan dosa yang Firaun lakukan (Kel. 2:11-12). Saat Musa di utus Tuhan Allah
untuk memimpin bangsa Israel membawa mereka ke luar dari negeri Mesir, ia
menyadari akan apa yang menjadi kekurangannya dihadapan Tuhan, namun Allah
meyakinkan ia bahwa Allah menyertai dia ( 4:1-17). Ketika ia dan bangsa Israel
dalam keadaan terhimpit yang ia lakukan bukan menyerah dan ia percaya Allah
memberikan keselamatan serta bertindak akan apa yang Allah firmankan kepadanya
(14:13,15,16,21,22). Musa memiliki iman yang disertai dengan meresponi apa yang
Tuhan Allah katakan kepadanya.
Musa,
adalah pribadi yang memiliki ketaatan yang sunguh dihadapan Allah. Apa yang
Allah katakan ia selalu melakukannya. Ini lah sebabnya hubungan Allah dengan
Musa begitu dekat. Apa yang Allah firmankan tentang hukum-hukum dan
aturan-aturan-Nya kepada Musa dan ia sampaikan dengan baik kepada umat Israel
yang ia pimpin (Ps. 20-32). Sebagai seorang pemimpin umat, Musa berserah dan
meminta Allah menyertai perjalanan di gurun. Sikap hidup Musa ini merupakan
sikapnya yang selalu mengandalkan Tuhan dalam kehidupanya. (ps. 33)
Namun
ada yang membuat Musa dan generasi umat yang di pimpinnya tidak dapat masuk ke
tanah perjanjian, justru Yosua dan
generasi muda umat Israel lah yang memasuki dan mendudukinya. Ini disebabkan
oleh ketidak taatan, sikap yang bersunggut yang di lakukan oleh umat Israel
yang sering melangggar apa yang menjadi ketetapan, memberontak kepada Allah dan
hukum Allah, selama masa pengembaraan. (Bil. 11:4-6; 14:1-4; 15:32-36). Dan
Musa secara pribadi adalah ia tidak dapat mengontrol amarahnya ketika umat
Israel bersungut-sunggut dan ia melontarkan marahnya kepada Allah (
Kel.17:1-7).
Dari
kedua tokoh Alkitab ini, yang harus dimiliki oleh seorang pembina warga Jemaat
masa kini agar setiap pelayananya berhasil memiliki hal-hal yang baik yang dari
kedua tokoh diatas, yaitu, memiliki kekudusan disertai takut akan Tuhan, hidup yang
berserah dan berpengharapan kepada Allah, tidak memiliki sifat sombong namun
penuh kerendahhan hati, sikap yang mampu dan rela untuk mengampuni. Hal ini
sanggat berpengaruh terhadap keberhasilan seorang pembina warga jemaat dalam
membina mereka. Selain dari itu kebijaksanaan seperti yang dimiliki Yusuf serta
sikap hidup yang mau menjadi berkat itu lah yang hasrus menjadi gaya hidup,
tidak pemarah namun peramah.
Kunci
keberhasilan seorang pembina Jemaat dalam membina warga gerejanya tergantung
pada pola dan sikap hidup yang baik di hadapan Allah, Keluarga dan Sesama. Bila
hal ini dapat di penuhi dengan baik, maka setiap jemaat atau warga gereja yang
dibina terarah dan bertumbuh dasn berakar di dalam Kristus Yesus.
Tuhan Yesus Memberkati Anda.
Tuhan Yesus Memberkati Anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar