Bertobat berarti menyesali
sungguh-sungguh perbuatan dosa dan berpaling untuk menjalani hidup yang sama
sekali bertolak belakang dengan dosa itu. Pertobatan sejati, dimulai dari hati
dan mewujud pada tindakan nyata.
Seruan pertobatan yang disuarakan
Yohanes Pembaptis begitu keras (7-9). Dan oleh pekerjaan Roh Kudus (Yoh 16:8 “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan
dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;”) seruan itu mengena di hati
orang-orang yang mendengarnya. Tiga kelompok orang yang merespons secara
berbeda (10-14) membuktikan bahwa anugerah Tuhan bekerja di antara mereka.
Bukti nyata pertobatan ialah kesediaan merubah perilaku, yang tadinya berpusat
pada diri sendiri menjadi berpusat kepada Allah. Maka pertanyaan masing-masing
kelompok, "Apa yang harus kami perbuat?" adalah doa pertobatan kepada
Allah. Jawaban Yohanes mengarahkan mereka kepada perubahan sikap: peduli kepada
sesama (11) serta menahan diri dari penyalahgunaan kuasa (13, 14).
Mungkinkah orang yang menyadari
lalu menyesali dosanya serta merta melepaskan diri dari ikatan dosa? Bukankah
dosa secara hakiki memperbudak si pendosa? Hal itu disadari benar oleh Yohanes.
Karena itu, Yohanes dengan jujur mengakui bahwa dia bukan Mesias melainkan
hanya pendahulu, yang mempersiapkan hati manusia. Kristus yang akan datang,
Dialah yang dapat memperbarui batin manusia dengan penyucian Roh Kudus (16).
Roh Kudus bagaikan api peleburan emas yang membakar dan menghancurkan segala
kotoran batin manusia sampai terjadi pemurnian.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah
Anda mengizinkan Kristus menyucikan batin Anda oleh karya dan kuasa Roh Kudus?
Apakah Anda telah dimerdekakan dari belenggu dosa untuk dapat mewujudkan
kehidupan yang menghasilkan buah kebenaran bagi kemuliaan Allah Bapa?
Camkan: yang tidak
bersedia menerima api pengudusan Roh Kudus dalam Kristus, akan mengalami api
penghukuman kekal Allah. Karena itu bertobatlah secara nyata dalam kerohanian
dan perilaku sosial kita.
Tuhan Yesus memberkati.